Apakah Boleh Berqurban Sebelum Aqiqah?

Tak sedikit orang masih mengajukan pertanyaan ini. Ia masih sangat ragu ketika hendak berqurban namun belum pernah melakukan aqiqah. Jadi, apakah boleh berqurban sebelum aqiqah?

“Dari kecil saya belum aqiqah, apakah boleh saya melaksanakan qurban terlebih dahulu?”

Pada dasarnya, aqiqah dan qurban mempunyai tujuan masing-masing. Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kita untuk melaksanakan keduanya, tentu dengan maksud yang berbeda.

Pengertian Qurban dan Aqiqah

Qurban dapat dimaknai sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yang diadakan setiap tahun sekali, yaitu pada Hari Raya Idul Adha.

Sedangkan pengertian aqiqah menurut Imam Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Tuhfatul Maudud, menyampaikan bahwa: Imam Jauhari berkata, “Aqiqah ialah menyembelih hewan pada hari ketujuhnya dan mencukur rambutnya.” Selanjutnya Ibnu Qayyim rahimahulla berkata, “Dari penjelasan ini jelaslah bahwa aqiqah itu disebut demikian karena mengandung dua unsur di atas dan ini lebih utama.”

Hukum Qurban dan Aqiqah

Hukum qurban dan aqiqah adalah sama-sama sunnah. Lebih tepatnya, menurut kesepakatan dari jumhur ulama, qurban memiliki kedudukan hukum sebagai sunnah muakkad, artinya sebagai amalan yang memiliki anjuran untuk dikerjakan bagi mereka yang mampu atau memiliki kelapangan rezeki. Sementara itu menurut madzhab Abu Hanifah hukum qurban adalah wajib.

Dalam hadits riwayat Tirmidzi nomor 1426, disebutkan bahwa:

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’ berkata, telah menceritakan kepada kami Husyaim berkata, telah mengabarkan kepada kami Hajjaj bin Arthah dari Jabalah bin Suhaim berkata, “ada seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar tentang hukum menyembelih hewan qurban, apakah hukumnya wajib? ‘Ibnu Umar lalu menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin melakukannya.” Laki-laki itu mengulangi pertanyaannya. Ibnu Umar lalu berkata, “Tidakkah kamu bisa memahaminya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin melakukannya!” Abu Isa berkata, “Hadits ini derajatnya hasan shahih. Hadits ini menjadi pedoman para ulama’, yakni bahwa menyembelih hewan qurban tidaklah wajib, tetapi ia merupakan sunnah dari sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini adalah pendapat Sufyan Ats Tsauri dan Ibnul Mubarak.”

Begitu pula dengan Aqiqah, memiliki kedudukan hukum sebagai sunnah muakkad. Hal ini merujuk pada hadits dari riwayat Salman bin Amir Addhobi. Dalam hadits itu, Salman bin Amir Addhobi berkata bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Bersamaan lahirnya anak laki-laki itu ada aqiqah maka tumpahkanlah (penebus) darinya darah (sembelihan) dan bersihkan darinya kotoran (cukur rambutnya).” (HR. Bukhari)

Adapun syariat binatang untuk aqiqah adalah kambing. Bagi anak laki-laki sebaiknya dengan menyembelih dua ekor kambing, sementara untuk anak perempuan hanya seekor. Anjuran ini terdapat dalam hadits riwayat Abu Daud, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barang siapa yang ingin menyembelih untuk anaknya maka hendaklah ia menyembelih untuknya. Untuk anak laki-laki, dua kambing dan untuk perempuan, seekor kambing.” (HR. Abu Daud)

Kendati hukum qurban dan aqiqah adalah sama-sama sunnah, tetapi waktu pelaksanaan keduanya berbeda. Pelaksanaan penyembelihan hewan untuk qurban pada Hari Raya Idul Adha hingga hari tasyrik, sedangkan menyembelih hewan untuk aqiqah lebih longgar karena tidak terikat jangka waktu tertentu.

Qurban Lebih Utama daripada Aqiqah

Seperti pada hal sebelumnya, hukum qurban dan aqiqah adalah sama-sama sunnah muakkad, di mana ibadah ini memiliki nilai yang sangat mulia bagi orang yang mengamalkannya. Walaupun demikian Imam Syafi’i berpendapat mengenai qurban, beliau menyampaikan bahwa hukum berqurban akan menjadi makruh apabila orang tersebut mampu tapi tidak melaksanakannya.

Objek Qurban dan Aqiqah

Secara umum orang yang dianjurkan untuk berqurban adalah mereka yang  beragama Islam, memiliki kemampuan membeli hewan sembelihan, berakal sehat, dan balig. Sedangkan anjuran aqiqah ada pada orang tua yang telah memiliki anak, hingga anak tersebut tumbuh dewasa. Setalah mencapai balig, anjuran aqiqah tidak lagi pada orang tua melainkan kepada sang anak untuk melaksanakan sendiri.

Hukum Menggabungkan Qurban dan Aqiqah

Beberapa ulama besar seperti Ibnu Sirin, Al-Hasan Al-Basri, dan Qatadah membenarkan bahwa penyembelihan qurban dan aqiqah secara bersamaan bagi yang bermadzhab Hambali dan Hanafi.

Hal ini berbeda dengan pendapat Imam Syafi’i (Madzhab Syafi’i), Imam Malik (Madzhab Maliki), dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad mengatakan tidak boleh bersamaan. Karena keduanya memiliki tujuan yang berbeda dan sebab yang berbeda pula.

Wallahu a’lam.

Itulah pembahasan tentang apakah boleh berqurban sebelum aqiqah. Semoga bermanfaat.

%d blogger menyukai ini: