CategoriesUncategorized

Duka dan Derita Saudara Suriah di Hampir Sembilan Tahun Konflik Berlangsung

Hampir sembilan tahun konflik sipil di Suriah terjadi. Ratusan ribu nyawa warga sipil Suriah meregang. Mulai dari anak-anak, orang dewasa, perempuan, maupun laki-laki. Mereka menjadi korban ganasnya konflik melalui serangan bom dan senjata yang menghujani wilayah-wilayah tempat dahulu tinggal, seperti Aleppo, Homs, dan Idlib. Jutaan warga terdampak yang selamat, pergi meninggalkan tanah kelahiran tercinta. Ada yang pergi mengungsi di wilayah kota tetangga dan menjadi pengungsi internal. Ada pula yang pergi ke negara-negara tetangga. Semuanya berusaha menyelamatkan diri dari konflik yang tak berkesudahan dengan rasa takut dan trauma yang terus mengikuti.

Namun pada perjalanannya, tak semua berhasil sampai di tempat tujuan. Tempat yang diharapkan memberikan harapan baru akan masa depan. Alan Kurdi menjadi salah satu contohnya. Seorang pengungsi anak asal Suriah berusia tiga tahun yang meninggal dunia setelah kapal yang ditumpangi bersaa banyak pengungsi lainnya tenggelam di Laut Tengah. Jenazahnya ditemukan terdampar di tepi sebuah pantai di Turki.

Hingga hari ini, konflik masih terus terjadi. Ribuan warga sipil Suriah semakin banyak yang pergi mengungsi dan kebanyakan dari mereka berada di Provinsi Idlib, wilayah yang berbatasan dengan negara Turki. Provinsi Idlib sendiri juga menjadi daerah konflik dengan serangan udara yang masih terus terjadi, dan tak jarang menargetkan wilayah-wilayah tempat warga sipil beraktivitas. Kamp-kamp pengungsi semakin padat, hingga mereka kesulitan mendirikan tenda. Sebab lahan semakin sedikit, tak mencukupi untuk menampung saudara sebangsa yang juga mengungsi. Maka tak heran jika ada sebagian dari mereka yang mesti tidur dengan beratapkan langit atau pepohonan. Kondisi ini semakin diperparah dengan hadirnya musim dingin. Tentu terbayang bagaimana beratnya melewati dinginnya udara dan cuaca tanpa ada perlindungan dan perbekalan yang memadai dan mencukupi.

Kondisi kamp pengungsian yang tak layak, membuat hidup mereka terlihat memprihatinkan. Mereka kekurangan bahan pangan dan logistik yang menunjang kehidupan. Belum lagi pengungsi anak-anak Suriah yang mesti tumbuh tanpa mendapatkan pendidikan yang layak. Sungguh sebuah kondisi yang membuat naluri kemanusiaan kita semestinya tergerak untuk peduli. Sebab mereka adalah manusia yang sama seperti kita. Sama-sama memiliki kehidupan, mimpi, cita-cita, dan harapan yang layak diperjuangkan. Bedanya saat ini, kita tinggal di negara yang aman dan sentosa.

Sebagai bentuk syukur atas nikmat tinggal di negara yang aman tanpa harus merasakan takut atas serangan bom dan senjata, mari kita tunjukkan kepedulian kita untuk saudara-saudara Suriah tercinta.

Bersama Aksi Cepat Tanggap, kita berikhtiar memberikan bantuan terbaik untuk memenuhi kebutuhan pangan dan kehidupan mereka. Beriringan, kita jaga asa anak-anak Suriah dan keluarga mereka. Kita temani mereka merajut kembali masa depan yang direnggut duka konflik kemanusiaan.

Bersama Aksi Cepat Tanggap melalui IndonesiaDermawan, kita muliakan kembali saudara-saudara Suriah kita.

Bismillahirrahmanirrahim.

#IndonesiDermawan

#LetsHelpSyria

#SolidaritasKemanusiaanDuniaIslam

#SaveOneSaveHumanity

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *