Penjelasan Mengapa Hari Raya Qurban Disebut Juga dengan Idul Haji

Hari Raya Qurban merupakan hari raya besar Islam kedua yang jatuh di bulan Dzulhijjah. Pada hari raya tersebut, umat muslim melakukan qurban dengan menyembelih sapi, unta atau kambing. Tapi mengapa hari raya qurban disebut juga dengan idul haji?

Sebelum menjelaskan mengapa hari raya qurban juga disebut sebagai hari raya haji, Anda harus tahu terlebih dahulu sejarah dan awal terjadinya hari raya qurban. Berikut adalah penjelasan ringkas mengenai hari raya kedua terbesar umat Islam ini.

Awal sejarah Hari Raya Qurban

Awal mula terjadinya hari raya qurban adalah peristiwa ketika Nabi Ibrahim menyembelih putranya, Nabi Ismail. Nabi Ibrahim dikisahkan belum memiliki keturunan meski umurnya sudah tua, akhirnya Allah mengkaruniakan putra padanya, yakni Nabi Ismail.

Untuk mengetahui apakah Nabi Ibrahim masih berbakti pada Allah, Allah memberikan wahyu pada Nabi Ibrahmin untuk menyembelih anaknya sendiri. Meski berat hati, Nabi Ibrahmin dan Nabi Ismail melakukan wahyu tersebut. Ketika hendak menyembelih leher Nabi Ismail, Allah yang melihat ketulusan Nabi Ibrahim, mengganti Nabi Ibrahim dengan seekor domba.

Inilah yang kemudian menjadi awal permulaan dari hari raya Qurban. Hari tersebut kemudian diperingati sebagai hari raya dan umat Islam disunnahkan untuk menyembelih hewan qurban sebagai wujud ketaqwaan kepada Allah.

Berkaitan dengan ibadah Haji

Sedangkan alasan mengapa hari raya qurban disebut juga dengan hari raya haji karena hari raya Idul Adha memang bersamaan dengan ibadah haji. Umat Islam yang sedang melakukan ibadah haji akan melakukan wukuf di Padang Arafah.

Rasulullah pernah bersabda bahwa wukuf di Arafah merupakan al-Hajju Arafah yang artinya puncak dari ibadah haji. Ketika melakukan wukuf, semua umat muslim akan menggunakan pakaian ihram yang serba putih. Ini melambangkan bahwa semua manusia sama dan tak ada perbedaan derajat apapun.

Tempat Nabi Ibrahim menyembelih Nabi Ismail

Wukuf berasal dari bahasa Arab, yakni waqafa yang artinya berhenti. Makna dari wukuf adalah meninggalkan aktifitas sejenak dan merenungkan diri agar semakin dekat dengan Allah.

Sebelum menyembelih Nabi Ismail, ternyata Nabi Ibrahim melakukan wukuf. Nabi Ibrahim berhenti sejenak melakukan berbagai aktifitas dan merenung, berdizkir dan berdoa kepada Allah sepanjang hari dalam tendanya, ini yang kemudian menjadi cikal bakal wukuf di Padang Arafah.

Dalam aktifitas wukuf, setiap umat muslim yang melakukan ibadah haji disarankan untuk mohon ampun kepada Allah, meminta petunjuk dan mengharapkan hidayah dari Allah swt. Aktifitas wukuf yang menjadi puncak dari ibadah haji inilah yang menyebabkan Idula Adha juga disebut sebagai Idul Haji.

Hubungan antara Idul Adha, Idul Haji dan Padang Arafah

Tak hanya menjadi tempat melakukan wukuf pada 9 Dzulhijjah, Padang Arafah merupakan tempat yang sakral bagi umat Islam. Disana adalah tempat Nabi Adam dan Hawa bertemu setelah turun dari surga.

Ini juga menjadi alasan mengapa Idul Adha, Idul Haji dan Padang Arafah berkaitan. Banyak umat muslim yang juga menyebut Idul Adha sebagai lebaran haji karena keduanya berjalan secara beriringan. Karena alasan yang sama, umat muslim juga disunnahkan untuk melakukan puasa Arofah di tanggal tersebut jika tak melakukan ibadah haji.

Alasan mengapa hari raya qurban disebut juga dengan idul haji kurang lebih sudah terjelaskan dalam uraian diatas. Sebagai umat muslim, Idul Adha bukan hanya sebagai hari raya biasa, ia juga menjadi hari dimana manusia seharusnya bisa makin dekat dengan Allah.

%d blogger menyukai ini: