Hukum Menjual Kulit Hewan Qurban dalam Islam, Apakah Boleh?

Ketika qurban berlangsung, kadang masih ditemui sohibul qurban yang menjual kulit atau daging hewan qurban. Padahal hukum menjual kulit hewan qurban sudah jelas dalam Islam. Banyak alasan mengapa sohibul qurban menjual kulit hewan qurban.

Alasan yang paling umum adalah tingkat perekonomian yang tinggi, sehingga jumlah hewan qurban dalam suatu tempat jadi banyak. Ini membuat waktu pengurusan hewan qurban jadi lebih panjang dan tak efektif.

Salah satu solusi yang dilakukan adalah menjual kepala atau kulit dari hewan qurban. Keuntungan dari penjualan tersebut bisa saja dimanfaatkan untuk membiayai aktifitas jagal dan operasional qurban.

Hukum Menjual Kulit Hewan Qurban

Meski niatnya baik, namun menjual bagian hewan qurban, baik berupa kulit, kepala, daging, tanduk bahkan rambutnya tak diperbolehkan. Hal yang sama ketika menggunakan bagian hewan qurban untuk membayar tukang jagal.

Imam Nawawi menjelaskan larangan penjualan hewan qurban dalam kitabnya, Maktabah al-Irsyad. Dalam kitab tersebut tertulis keterangan berupa:

  • Redaksional dari mahzab Syafi’i melarang penjualan bagian-bagian dari tubuh hewan qurban dan nadzar sunnah haji.
  • Larangan penjualan tersebut termasuk daging, lemak, rambut, tanduk, dan bagian tubuh yang lain.
  • Tidak boleh pula menggunakan kulit atau bagian lain dari hewan qurban untuk membayar tukang jagal.

Dalam buku tersebut, sohibul qurban diperbolehkan untuk mengambil bagian tersebut dan menghadiahkannya untuk orang lain. Mereka juga boleh mengambil bagian dari hewan qurban untuk dimanfaatkan, misalnya bagian kulit untuk membuat kantung air.

Bagaimana Jika Tak Ada yang Mau Mengambilnya?

Masalah yang mungkin terjadi adalah tidak adanya pihak yang ingin memanfaatkan bagian dari hewan qurban yang tak bisa dimakan. Untuk masalah tersebut, solusinya adalah memanfaatkannya untuk membuat bedug atau terbang, sehingga bisa bermanfaat.

Ini tentu berbeda dengan qurban karena nadzar atau qurban wajib, untuk hewan qurban dari dua jenis tersebut, hukum menjual kulit hewan qurban tetap terlarang. Bagian yang tak bisa dimanfaatkan harus tetap diberikan kepada orang lain, sebagaimana pendapat dari Imam as-Syarbini.

Cara lain yang juga diperbolehkan untuk memanfaatkan kulit hewan qurban adalah memotong-motongnya dan mencampurkannya dalam daging qurban. Sehingga semua bagian dapat terdistribusi pada masyarakat.

Akibat Jika Menjual Kulit Hewan Qurban

Karena menjual kulit hewan qurban tak diperbolehkan, jika ada sohibul qurban yang melakukannya, maka qurban yang ia lakukan jadi batal dan tidak sah. Artinya hewan qurban yang ia sembelih tak terhitung sebagai ibadah qurban, melainkan hanya sembelihan biasa.

Jika ini terjadi, maka ia tidak bisa mendapatkan fadhilah dari orang yang berqurban ketika Idul Adha. Terdapat hadis yang juga menguatkan pendapat ini dari riwayat al-Hakim dalam kitab Faidhul Qadir, yang artinya:

“Barangsiapa yang menjual kulit kurbannya, maka tidak ada kurban bagi dirinya. Artinya dia tidak mendapat pahala yang dijanjikan kepada orang yang berkurban atas pengorbanannya.”

Bagaimana jika sudah terlanjur? Maka jual beli tersebut tidak sah. Apabila pembeli merupakan orang yang tak berhak menerima daging qurban, maka kulit dan uang harus dikembalikan.

Hal yang sama jika kulit atau daging terlanjur dimakan, maka harus mengganti daging tersebut dan memberikannya kepada yang berhak. Tapi jika pihak penerima merupakan orang yang berhak menerima daging qurban, maka uang harus dikembalikan dan daging diangggap sedekah.

Semoga penjelasan mengenai hukum menjual kulit hewan qurban ini bisa memberikan manfaat untuk pembaca. Terutama umat muslim yang berniat untuk melakukan qurban pada Idul Adha mendatang.

%d blogger menyukai ini: