Penjelasan Lengkap Hukum Potong Kuku dan Rambut Saat Qurban

Ketika hendak melakukan ibadah qurban, harus diketahui dulu syarat dan ketentuan sebelum, saat dan setelah qurban. Salah satu aturan yang harus diketahui adalah hukum potong kuku dan rambut saat qurban.

Dalam Islam memang ada larangan untuk memotong kuku dan rambut sebelum dan saat melakukan qurban. Berikut ini merupakan penjelasan ringkas dan dalil yang mendukungnya.

Dalil Tentang Larangan Memotong Kuku dan Rambut Sebelum Qurban

Dalil pertama yang melarang umat muslim untuk memotong kuku dan rambut menjelang qurban adalah hadits dari Imam Muslim, berikut adalah terjemahannya:

“Jika kalian telah menyaksikan hilal Dzul Hijah (maksudnya telah memasuki satu Dzulhijah, pen) dan kalian ingin berqurban, maka hendaklah shohibul qurban membiarkan (artinya tidak memotong) rambut dan kukunya.”

Masih dari riwayat Imam Muslim, ada hadits lagi yang menguatkan hadits diatas, berikut adalah terjemahannya:

“Siapa saja yang ingin berqurban dan apabila telah memasuki awal Dzulhijah (1 Dzulhijah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berqurban.”

Dari hadits pertama dapat diambil kesimpulan bahwa ada perintah untuk tidak memotong rambut atau kukunya. Sedangkan pada hadits keduua menjelaskan mengenai larangan untuk memotong rambut dan kuku menjelang qurban.

Jika dilihat dari penjelasan hadits tersebut, memang ada larangan untuk memoton rambut dan kuku setelah memasuki 10 hari awal bulan Dzulhijjah atau sebelum Idul Adha. Larangan ini hanya untuk sohibul qurban atau orang yang akan melakukan qurban. Sedangkan untuk anggota keluarga yang lain, larangan ini tak berlaku.

Pendapat Ulama

Hukum potong kuku dan rambut saat qurban ternyata terpecah dalam tiga pendapat. Berikut adalah penjelasan lengkap dari masing-masing pendapat para ulama:

  • Pendapat pertama merupakan pendapat dari Robi’ah, Imam Ahmad dan sebagian dari murid Imam Syafi’i. Larangan untuk memotong rambut maupun kuku bagi sohibul qurban memang haram sampai hewan qurbannya selesai disembelih. Misalnya, hewan qurban disembelih pada tanggal 11 Dzulhijjah, maka larangan untuk tidak memotong kuku dan rambut akan berakhir di tanggal tersebut. Larangan ini berlaku secara zhohir atau tekstual.
  • Pendapat kedua merupakan pendapat dari Imam Syafi’i dan sebagian muridnya yang lain. Menurut pendapat kedua, larangan ini sebenarnya tak memiliki sifat haram, melainkan makruh atau makruh tanzih. Pendapat ini memiliki landasan dari hadits Aisyah, yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad melakukan qurban dan tidak melarang apa yang Allah halalkan. Maksudnya, Nabi tidak melakukan larangan orang ihram (tidak memotong kuku dan rambut) ketika akan berqurban.
  • Pendapat ketiga dari Imam Abu Haifah dan Imam Malik, yang mengatakan bahwa larangan tersebut tidak makruh. Imam Malik dalam salah satu kitabnya mengatakan bahwa larangan ini hanya berlaku untuk qurban yang sifatnya sunnah, bukan qurban yang sifatnya wajib.

Hikmah Larangan Memotong Kuku dan Rambut Sebelum Qurban

Ternyata terdapat hikmah dari larangan memotong kuku dan rambut menjelang qurban. Larangan ini dimaksudkan agar makin banyak anggota tubuh yang terbebas dari api neraka karena melakukan qurban.

Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa larangan ini dimaksudkan agar menyerupai orang yang muhrim atau melakukan ihrom. Pendapat kedua ini tidak banyak di dukung karena menurut Imam Syafi’i orang yang berqurban beda dengan orang yang ihrom.

Penjelasan mengenai hukum potong kuku dan rambut saat qurban ini semoga menambah pengetahuan pembaca. Tak ada salahnya menahan diri untuk tak memotong kuku atau rambut sesuai dengan dalil diatas.

%d blogger menyukai ini: