Hukum Qurban Berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan Ijma

Di kalangan para ulama terdapat perbedaan dalam memandang hukum qurban. Akan tetapi para ulama sepakat bahwa dasar atau landasan hukum syariat qurban ada tiga hal, yaitu berdasarkan Al-Qur’an, hadits, dan ijma’.

1. Hukum Qurban Berdasarkan Al-Qur’an

Perintah untuk melaksanakan ibadah qurban banyak tercantum di dalam Al-Qur’an, salah satunya terdapat pada surat Al-Kautsar ayat 2. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah.”

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksudkan pada ayat di atas adalah berqurban setelah mengerjakan shalat Ied.

2. Hukum Qurban Berdasarkan Hadits

Diriwayatkan dalam hadits Imam Bukhari, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda:

“Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berqurban dua kambing gemuk dan bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri, beliau menyebut nama Allah dan bertakbir, dan meletakkan kedua kakinya di atas pundak kambing tersebut.” (HR. Imam Bukhari)

3. Hukum Qurban Berdasarkan Kesepakatan (Ijma’)

Adapun perbedaan pendapat para ulama terkait hukum qurban adalah sebagai berikut:

1. Pendapat pertama, berqurban hukumnya wajib bagi yang memiliki kemampuan.

Para ulama yang berpendapat demikian adalah Rabi’ah Al-Auza’i, Imam Abu Hanifah, dan Imam Al-Laits serta sebagian ulama madzhab maliki, dan mereka bersandar pada beberapa dalil Al-Qur’an maupun hadits.

Di antara dalil tersebut, salah satunya hadits yang diriwayatkan dari sahabat Jundub bin Sufyan radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barang siapa yang menyembelih (hewan qurban) sebelum melaksanakan shalat (Idul Adha), maka hendaknya ia menggantinya dengan (hewan qurban) lainnya, dan barang siapa yang belum menyembelih (hewan qurban), maka hendaklah ia segera menyembelih (berqurban).” (HR. Imam Bukhari)

Selain itu, hadits yang diriwayatkan oleh Barra bahwa Abu Burdah mengatakan,

Wahai Rasulullah, saya telah menyembelih (hewan qurban) sebelum shalat (Idul Adha), dan saya memiliki jadza’ah (kambing yang umurnya kurang dari setahun) yang lebih baik dari musinnah (kambing yang umurnya masuk tahun ke dua). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Gantilah ia (kambing yang telah disembelih sebelum shalat Ied) dengan (jadza’ah), dan tidak akan diterima (jadza’ah sebagai hewan qurban) dari siapa pun setelahmu.” (HR. Imam Bukhari)

2. Pendapat kedua, berqurban hukumnya sunnah, bukan wajib.

Para ulama yang mengemukakan pendapat ini madzhab jumhur Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq, Ibnu Mundzir, Imam Ibnu Hazm dan imam-imam lainnya. Dan mereka semua bersandar pada dalil sebagai berikut ini.

Hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Jika sudah masuk sepuluh hari (pada bulan Dzulhijjah), dan salah satu di antara kalian ada yang ingin berqurban, maka janganlah ia menyentuh (memotong) dari rambutnya dan kulitnya.”

Dalam hadits tersebut terdapat kata ‘ingin berqurban’, hal ini merupakan bukti bahwa berqurban bukanlah wajib, melainkan sunnah.

Mengenai hukum qurban adalah sunnah, terdapat juga dalam riwayat dari para sahabat. Sebagaimana Imam Mawardi mengatakan, “Dan telah diriwayatkan dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum riwayat-riwayat yang mengarah kepada ijma’ atas ketidakwajibannya qurban.”

Riwayat tersebut di antaranya adalah riwayat dari Abi Sarihah, beliau berkata: “Saya telah melihat Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhum tidak berqurban.”

Dalam riwayat lain disebutkan dari Abi Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan, “Saya sengaja tidak berqurban, padahal saya mampu untuk berqurban, takut jika orang-orang di sekitarku menganggapnya sebagai sebuah keharusan atasku (wajib).”

Maka berdasarkan ini bisa disimpulkan bahwa hukum qurban dari pendapat kedua adalah pendapat yang lebih diutamakan.

Wallahu a’lam.

%d blogger menyukai ini: