Niat Puasa Arafah dan Tarwiyah Serta Tata Cara yang Perlu Dipahami Sebelum Melaksanakannya

Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrah-nya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrah-nya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrah-nya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrah-nya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadis)

Hadis di atas menunjukkan bahwa niat merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah amal. Imam Bukhari mengatakan bahwa suatu amalan yang tidak diniatkan karena mengharap balasan dari Allah, maka amal tersebut sia-sia. Oleh karenanya, mengetahui niat untuk melakukan suatu amal menjadi hal yang penting, termasuk niat puasa arafah dan tarwiyah.

Dengan memantapkan niat untuk berpuasa, maka keutamaan dari puasa yang dilakukan akan didapatkan. Sebaliknya, tanpa adanya niat, puasa yang dilakukan nantinya hanya bernilai lapar dan dahaga saja

Di mana letak niat puasa arafah dan tarwiyah?

Sebelum membahas tentang bagaimana bacaan niat puasa arafah serta tarwiyah, perlu diketahui di mana letak niat sebenarnya. Hal ini penting untuk dijabarkan karena pada kenyataannya, ada perbedaan pendapat dari ulama terkait pandangan tentang niat.

Secara umum, perbedaan yang terjadi adalah apakah niat untuk ibadah dilafalkan atau tidak (hanya diucapkan dalam hati).

Para ulama yang mengatakan kebolehan untuk mengucapkan atau melafalkan niat bersandar pada hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam yang diriwayatkan oleh Anas, yaitu:

“Dari sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengucapkan “Aku memenuhi panggilan-Mu untuk mengerjakan umrah dan haji.” (HR. Muslim)

Hadis di atas menjadi salah satu dalil yang digunakan untuk melafalkan niat ketika hendak melakukan ibadah. Bukan saja ibadah umrah dan haji sebagaimana tertera dalam teks, melainkan juga ibadah lainnya, termasuk puasa arafah dan tarwiyah.

Sedangkan di sisi yang lain para ulama mengatakan bahwa niat cukup di dalam hati saja dan tidak perlu diucapkan. Dalil mengenai tempat niat di dalam hati adalah pendapat ulama besar Islam Ibnu Taimiyah, yaitu:

“Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia ucapkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 18:262)

Mayoritas ulama bersepakat dengan dalil di atas. Namun, ulama pertengahan mengatakan jika hal tersebut adalah khilafiyah.

Niat puasa arafah dan tarwiyah dalam bahasa Arab

Adapun niat puasa tarwiyah–yang dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah, yang bisa dibaca dalam bahasa Arab adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِّلِه تَعَالَى

Artinya: “Saya niat puasa tarwiyah, sunnah karena Allah ta’ala.”

Sedangkan niat untuk melaksanakan puasa arafah tanggal 9 Dzulhijjah dalam bahasa Arab adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِّلِه تَعَالَى

Artinya: “Saya niat puasa arafah, sunnah karena Allah ta’ala.”

Kedua niat tersebut bisa dibaca ketika malam hari sebelum tidur ataupun di pagi hari sebelum menyantap hidangan sahur.

Niat puasa arafah dan tarwiyah dalam latin

Dalam tulisan latin, adapun lafaz niat untuk menjalankan puasa tarwiyah adalah:

Nawaitu shouma tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala

Sedangkan bacaan latin untuk niat ketika hendak menjalankan puasa arafah adalah:

Nawaitu shouma arafata sunnatan lillahi ta’ala

Hanya saja, perlu diketahui bahwa sebenarnya bacaan niat tersebut adalah anjuran semata. Artinya, boleh menggunakan redaksi niat yang lain sesuai dengan kemampuan. Seseorang tidak diharuskan untuk berniat dengan bahasa Arab, melainkan boleh dengan bahasa sendiri, termasuk bahasa Indonesia asalkan dengan lafal yang baik.

Tata cara pelaksanaan

Secara umum, tidak ada tata cara khusus yang perlu dilakukan ketika hendak menjalankan puasa tarwiyah dan juga puasa arafah. Artinya, pelaksanaan puasa tersebut sebagaimana pelaksanaan puasa lainnya, yaitu:

  • Berniat
  • Makan sahur–ibadah puasa tetap sah tanpa sahur, tetapi makan sahur adalah sunnah yang dianjurkan
  • Menjaga puasa dari terbit matahari hingga terbenam matahari di sore hari
  • Menyegerakan berbuka apabila waktu berbuka sudah tiba

Tentu, selama menjalankan ibadah puasa tersebut, selain menahan diri dari berbagai hal yang bisa merusak pahala puasa bahkan membatalkannya, seorang muslim harus memperbanyak ibadah agar nantinya keutamaan dari pelaksanaan puasa tarwiyah dan puasa arafah bisa didapatkan.

Seperti yang diketahui, berdasarkan dalil yang dijadikan acuan pelaksanaannya, puasa tarwiyah memiliki keutamaan yaitu diampuni dosa setahun yang telah lalu. Sedangkan keutamaan puasa arafah adalah diampuni dosa setahun yang telah lalu dan juga dosa setahun yang akan datang.

Hanya saja, perlu diketahui bahwa ada perbedaan pendapat ulama mengenai pelaksanaan puasa tarwiyah. Beberapa ulama berpandangan bahwa tidak ada kekhususan untuk melakukan ibadah puasa tarwiyah dan dalil yang digunakan dianggap lemah sehingga tidak bisa dijadikan hukum.

%d blogger menyukai ini: