Puasa Muharram: Pengertian, Sejarah, dan Niat yang Perlu Diketahui

Muharram adalah bulan pertama dalam kalender hijriah. Umat Islam meyakini pada bulan ini banyak memiliki keutamaan. Ada salah satu amalan sunah yang bisa umat Islam laksanakan di bulan Muharram ini, amalan tersebut yaitu puasa di bulan Muharram. Berikut ini adalah pengertian, sejarah dan niat puasa Muharram.

Pengertian

Puasa di bulan Muharram adalah puasa sunah yang dilaksanakan selama sepuluh hari di bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 Muharam. Puasa pada tanggal 10 muharram  ini dikenal dengan istilah Yaumu ‘Asyuro, yang berarti hari pada tanggal kesepuluh bulan Muharram.

Pada tanggal 10 Muharram ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan umatnya untuk melaksanakan puasa atau yang dikenal dengan Shaum Asyura. Dalam sebuah hadits mengatakan bahwa puasa yang utama setelah bulan Ramadhan adalah puasa asyura. Isi hadits tersebut adalah sebagai berikut.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah (shalat) fardhu adalah shalat malam.” (HR. Abu Hurairah)

Sejarah singkat

Seperti yang sudah kita ketahui, puasa pada tanggal 10 Muharram sangat dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibalik itu, ada yang harus kamu ketahui mengenai sejarah amalan sunah ini.

Suatu hari, sahabat Ibnu Abbas menyampaikan informasi bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam akan datang ke Madinah. Di awal kedatangannya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyaksikan orang-orang Yahudi melaksanakan ibadah puasa di tanggal 10 Muharram atau disebut dengan asyura yang berarti kesepuluh.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian mengonfirmasi mengenai puasa asyura yang dilaksanakan oleh orang – orang Yahudi tersebut. Setelah di cari tahu kebenarannya, ternyata orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram karena pada hari itu adalah hari ketika Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan Nabi Musa dari kejaran Firaun. Mendengar jawaban itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa dirinya yang lebih berhak untuk melestarikan dan menyempurnakan syariat Nabi Musa dibandingkan dengan orang Yahudi.

Setelah itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan contoh kepada para sahabat untuk melestarikan puasa tersebut sebagai rasa syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan perlindungan kepada Nabi Musa dari kejaran Firaun. Rasulullah juga meminta para sahabt untuk melaksanakan puasa asyura yang bertepatan dengan tanggal 10 Muharram.

Niat melaksanakan puasa Muharram

Sebelum melaksanakan puasa sunah ini, tentunya kita harus membaca niatnya terlebih dahulu.

Berikut ini bacaan niat puasa asyura :

نَوَيْتُ صَوْمَ الْمُحَرَّمِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shaumal Muharrama lilâhi ta’âlâ.

Artinya : “Saya niat puasa Asyura karena Allah ta’ala.”

Jika kamu baru  niat melaksanakan puasa asyura pada pagi harinya, maka itu diperbolehkan. Karena menurut mazhab Syafi’i membaca niat puasa di malam hari hanya berlaku untuk puasa wajib atau puasa di bulan Ramadhan. Kamu boleh membaca niat puasa sunah di siang hari dengan catatan sejak subuh belum makan, minum dan belum melakukan hal – hal lain yang bisa membatalkan puasa.

Bacaan niat puasa asyura disiang hari setelah mulai berpuasa adalah sebagai berikut :

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ عَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

“Nawaitu shauma hadzal yaumi ‘an ada’i sunnati asyura lillahi ta‘ala.”

Artinya : “Aku berniat puasa sunah Asyura pada hari ini karena Allah subhanahu wa ta’ala.”

Setelah membaca niat, hal yang tak kalah penting yang jangan sampai kamu lewatkan adalah makan sahur. Sahur lebih utama dilakukan menjelang subuh sebelum imsak. Itulah pengertian, sejarah dan niat puasa Muharram yang harus kamu pelajari, agar kamu tidak ragu lagi untuk melaksanakan amalan sunah ini. Semoga bermanfaat.

%d blogger menyukai ini: