Puasa Arafah dan Tarwiyah Tahun 2022, Kapan Dilaksanakan?

Memasuki bulan Dzulhijjah, atau seringkali disebut dengan bulan haji, umat muslim di seluruh dunia bersiap untuk melaksanakan salah satu ibadah besar mereka. Selain haji di Arab Saudi bagi yang mampu, ada pula pelaksanaan Hari Raya Iduladha dan juga penyembelihan hewan kurban. Perlu diketahui, sebelum Iduladha, ada ibadah sunah yang bisa dilakukan, yaitu puasa tarwiyah dan arafah.

Nah, pertanyaan yang kemudian muncul adalah kapan pelaksanaan puasa arafah dan tarwiyah tahun 2022? Hal ini tentu saja penting diketahui sejak awal untuk persiapan. Selain itu, pengetahuan tentang jadwal puasa juga bisa dijadikan acuan jika nantinya ada perbedaan penetapan.

Sekilas tentang puasa tarwiyah dan puasa arafah

Puasa tarwiyah merupakan puasa sunah yang dilaksanakan satu hari sebelum puasa arafah. Berdasarkan salah satu sumber literatur dikatakan bahwa dasar penamaan puasa tarwiyah adalah peristiwa Nabi Ibrahim pertama kalinya mendapatkan mimpi untuk menyembelih Nabi Ismail, anaknya.

Nabi Ibrahim mempertanyakan mimpi tersebut apakah perintah dari Allah atau godaan setan. Perilaku Nabi Ibrahim yang mempertanyakan tersebut dalam bahasa lain disebut dengan istilah tarwiyah.

Selain itu, dalam suatu riwayat dikatakan, “Puasa pada hari tarwiyah menghapuskan (dosa) satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun”.

Hadis di atas menjadi dasar yang diambil sebagian ulama dan kaum muslim untuk melaksanakan puasa tarwiyah. Meskipun demikian, ada ulama yang berseberangan dan mengatakan bahwa status hadis tersebut maudhu.

Sedangkan puasa arafah adalah puasa yang dijalankan di hari arafah. Nama puasa arafah sendiri diambil dari kisah Nabi Ibrahim yang sudah mengetahui bahwa mimpi menyembelih Nabi Ismail adalah perintah Allah. Kata ‘mengetahui’ dalam bahasa Arab disebut arafah.

Perintah berpuasa arafah juga dilaksanakan karena adanya hadis dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu:

“Puasa hari arafah aku harapkan dari Allah bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya.” (HR. Muslim no. 1162)

Terkait hadis mengenai puasa arafah, para ulama bersepakat. Tidak perbedaan mengenai hadis tersebut.

Kapan pelaksanaan di tahun 2022?

Sebagaimana disinggung di awal bahwa puasa tarwiyah dan puasa arafah adalah dua jenis puasa yang dilaksanakan secara berurutan. Sebenarnya, kedua puasa tersebut merupakan rangkaian puasa 9 hari di bulan Dzulhijjah yang disarankan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam.

Dalam salah satu riwayat, beberapa istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal dzulhijjah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya.”

Keduanya, baik tarwiyah dan arafah termasuk dalam puasa 9 hari awal di bulan Dzulhijjah. Perbedaan ulama terdapat pada tidak adanya perintah khusus mengenai puasa tarwiyah.

Lantas, kapan kedua puasa tersebut dijalankan?

Dalam kalender Islam, puasa tarwiyah pada tahun 2022 ini jatuh pada tanggal 8 Dzulhijjah 1443 H. Sedangkan puasa arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah 1443 H berdasarkan kalender Islam.

Sedangkan dalam kalender masehi, ada perbedaan mengenai pelaksanaan puasa tarwiyah dan puasa arafah pada tahun 2022 ini–tentu juga berimbas pada perbedaan hari pelaksanaan Iduladha.

Dalam hal ini, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama sudah menetapkan bahwa 1 Dzulhijjah 1443 H bertepatan dengan tanggal 1 Juli 2022. Artinya, puasa tarwiyah menurut kalender masehi jatuh pada tanggal 8 Juli 2022 sedangkan puasa arafah jatuh pada tanggal 9 Juli 2022. Nantinya, umat Islam di Indonesia akan melaksanakan Iduladha pada tanggal 10 Juli 2022.

Hanya saja, organisasi Islam Muhammadiyah memiliki perbedaan pendapat mengenai pelaksanaan tersebut. Muhammadiyah menetapkan tanggal 1 Dzulhijjah 1443 H bertepatan dengan tanggal 31 Mei, sehingga pelaksanaan puasa tarwiyah pada tanggal 7 Juli 2022 dan puasa arafah pada tanggal 8 Juli 2022. Pelaksanaan Iduladha sendiri dilakukan pada 9 Juli 2022.

Lalu, harus mengikuti pendapat yang mana?

Dalam banyak kesempatan, para ulama mengatakan bahwa perbedaan adalah sebuah rahmat, kecuali perbedaan dalam hal akidah. Oleh karenanya, perbedaan mengenai penetapan tanggal antara Pemerintah Indonesia dan Muhammadiyah sebenarnya adalah hal yang biasa. Terlebih, keduanya memiliki cara penentuan serta standar yang berbeda.

Oleh karenanya, dalam hal ini, secara umum masyarakat mendapatkan kebebasan untuk memilih mana yang mereka yakini sebagai sebuah kebenaran. Meskipun, ada sebagian ulama yang berpendapat pentingnya mengikuti keputusan dari pemerintah untuk menciptakan sebuah harmoni dalam pelaksanaan.

Hanya saja, membesar-besarkan perbedaan tersebut terutama dibumbui dengan kesan negatif tentu sangat tidak dianjurkan. Hal ini dikarenakan sikap tersebut hanya akan memercikkan perpecahan yang sebenarnya bukan merupakan ciri dari seorang muslim. Pasalnya, Allah sendiri berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 10,

Artinya, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

%d blogger menyukai ini: