Sejarah Qurban di Zaman Nabi dalam Al-Qur’an dan Hadits

Setiap tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam memperingati Hari Raya Idul Adha sebagai hari besar yang juga kita sebut Idul Qurban. Hari raya ini memiliki sejarah yang cukup panjang dari zaman kenabian hingga sekarang setiap tahunnya kita laksanakan ibadah qurban.

Sebelum kita membahas tentang sejarah qurban yang ada dalam Al-Qur’an dan hadits, kita simak terlebih dahulu pengertian tentang qurban berikut ini.

Pengertian Qurban

Qurban merupakan kata yang berasal dari Bahasa Arab yang memiliki arti dekat, mendekatkan diri atau menghampiri. Menurut istilah, qurban adalah salah satu ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara menyembelih hewan qurban sebagai tanda syukur atas nikmat-Nya.

Qurban adalah Ibadah yang sangat Allah anjurkan

Hanya setahun sekali, Allah subhanahu wa ta’ala menganjurkan kita untuk melaksanakan shalat sunnah Idul Adha dan juga ibadah qurban bagi yang telah memenuhi syaratnya.

Dari Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu-bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah—sebagai qurban—di mana pun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.” (HR. Ibn Majah dan Tirmidzi. Tirmidzi menyatakan hadits ini adalah hasan gharib)

Sejarah di balik ibadah Qurban di zaman Nabi dalam Al-Qur’an dan Hadits

Perintah untuk melaksanakan qurban, sesungguhnya sudah ada sejak lama. Tonggak sejarah perjalanan qurban ini termaktub dalam berbagai firman Allah subanahu wa ta’ala agar umat muslim dapat mengambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut. Berikut ini sejarah qurban dari masa ke masa.

Sejarah Qurban Nabi Adam Alaihissalam

Sebelum adanya perintah berkurban, sejarah qurban sebenarnya bermula dari zaman Nabi Adam alaihissalam.

Bermula dari perintah Allah subhanahu wa ta’ala yang memerintahkan dua pasangan anak dari Nabi Adam alaihissalam yaitu Qabil dan Habil yang lalu selanjutnya Iqlima dan Labuda untuk sama-sama melakukan pernikahan secara silang.

Untuk memperoleh Iqlima dan Labuda, Qabil dan Habil mendapatkan perintah untuk berqurban. Habil memberikan persembahan kambing ternak yang terbaik untuk diqurbankan, sedangkan Qabil memberikan gandum dari hasil pertanian yang sudah rusak. Allah tidak menerima Qurban Qabil karena ia tidak ikhlas dalam berqurban.

Namun kisah qurban habil ini belum termasuk anjuran umat Islam untuk melaksanakan qurban.

Sejarah Qurban Nabi Ibrahim Alaihissalam

Dari Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang akan kami peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.” Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” (HR. Ahmad dan ibn Majah)

Sejarah qurban yang menjadi landasan anjuran berqurban ini berawal dari kisah Nabi Ibrahim alaihissalam. Bermula dari ujian Nabi Ibrahim alaihissalam yang belum juga mendapatkan keturunan hingga masa tuanya. Beliau pun beroda kepada Allah.

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia kan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh.” Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (Qs. As-Saffat: 99-101)

Atas izin-Nya di umur yang sangat tua, Nabi Ibrahim alaihissalam memiliki seorang anak laki-laki yang shaleh dan penyabar bernama Nabi Ismail alaihissalam.

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (Qs. Maryam: 54)

Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan wahyu untuk menyembelih anaknya

Ketika dewasa, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan wahyu kepada Nabi Ibrahim alaihissalam untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail alaihissalam lewat mimpinya. Berbeda dengan kita, pasti siapa pun tidak ada yang rela untuk menyembelih anaknya sendiri yang telah kita rawat dari kecil. Dari sinilah Nabi Ibrahim alaihissalam tahu ini adalah perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Qs. As-Saffat: 102)

Saat tiba pelaksanaan qurban itu, Nabi Ibrahim alaihissalam pun bersiap dan lalu membaringkan Nabi Ismail alaihissalam. Dengan tegar dan sabar, beliau pun mengayunkan parang tajamnya dari atas. Namun atas izin Allah subhanahu wa ta’ala, tubuh Nabi Ismail alaihissalam digantikan dengan kambing jantan yang putih dan bertanduk dengan mata yang sangat bersih dari surga.

Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu), ‘kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. As-Saffat: 104-110)

Dari mukjizat yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan ini membuktikan seberapa jauh cinta Nabi Ibrahim alaihissalam dan Nabi Ismail alaihissalam kepada Allah.

Qurban adalah bukti cinta kita kepada Allah

Sejarah qurban dari kedua Nabi ini menjadi bukti bahwa ibadah qurban merupakan ibadah yang sangat Allah subhanhu wa ta’ala cintai.

Karena itulah, Allah menganjurkan untuk melakukan qurban setiap tahunnya sebagai bukti cinta kita atas kenikmatan yang telah Allah berikan. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung yang bisa menjalankan semua ibadahnya dengan baik.

Itulah penjelasan lengkap tetang sejarah Qurban. Tunaikan qurban tahun ini dengan kemudahan qurban online di Indonesia Dermawan.

%d blogger menyukai ini: